SANTRI TAHFIDZ ROMU DAPAT  IJAZAH BERSANAD

Salah satu yang  menjadi dambaan orang tua adalah ketika putra-putrinya berhasil Khatamkan Al-Qur’an dengan baik dan lancar. Terlebih Hafal 30 Juz plus dapat ijazah bersanad, sungguh menjadi kebanggaan tersendiri dan tak akan pernah terlupakan sepanjang hidup.

Pasca mendak pertama  atau satu tahun wafatnya KH, M. Burhan Jamil, pendiri pondok pesantren Raudhatul Mujawwidin, ada 6 santri tahfidz Romu yang khatam Al-Qur’an. 2 santri telah lolos tirakatan dan 4 santri baru lolos membaca awal hingga akhir 30 juz dan disima’ oleh para santri tahfidz lainya. Dua orang santri langsung diberikan ijazah atas nama: Naila Aflahatusshofa Binti H. Suyatno dan Tri Asih Handayani binti Darno. Sedangkan 4 santri lainya yaitu: Arina Putri Tsania HM Binti Abdul Hamid; Clara Diah Feby astuti binti Agus Sukamto, dan Qurrata A’yun Binti Muhtaram, serta Muhammad Mahbub.

 

Pentingnya Bersanad

Pada akhir-akhir ini, betapa menjamurnya lembaga pendidikan dengan label rumah tahfidz yang ditengarai oleh orang-orang yang bukan ahli di bidangnya. Ustad-ustad yang tidak jelas sanad keilmuanya seakan menjadi trend tersendiri yang oleh masyarakat umum dijadikan idola tanpa meneliti terlebih dahulu apakah mereka belajar dengan guru yang benar-benar faham agama atau bukan. Kondisi demikian sudah diwanti-wanti oleh Rausulullah SAW :

 “Fandhuru ‘amman ta’khudzuuna dienakum.” Maka lihat dan telitilah dari siapa kamu menerima ajaran agamamu itu. “Sesungguhnya menjelang hari kiamat, muncul banyak pendusta.”. “Janganlah kamu menangisi agama ini bila ia berada dalam kekuasaan ahlinya. Tangisilah agama ini bila ia berada di dalam kekuasaan bukan ahlinya.” Dengan melihat kondisi demikian, Pondok Pesantren Raudhatul Mujawwidin ingin menegaskan bahwa guru-guru Al-Qur’an di pondok Pesantren Raudhatul Mujawwidin benar-benar bersanad Hingga Rasulullah SAW.

Muhammad Ansor Wijaya sebagai Ketua Yayasan Raudhatul Mujawwidin, memberikan ijazah kepada para santri yang telah hafal 30 Juz dan lolos tirakatan. Ijazah (legalitas formal) tersebut diberikan sebagai bentuk pengakuan secara formal dari lembaga khususnya bidang Al-Qur’an dan sanadnya bersambung ke Rasulullah SAW”. Demikian tegas KH. Muhammad Ansor Wijaya selaku penanggung jawab bidang Pendidikan Al-Qur’an Pondok Pesantren Raudhatul Mujawwidin. Hal ini juga akan diberikan pada santri yang telah lolos dan belum mendapatkan syahadah karena menjadi bagian dari tradisi di Pondok Pesantren Raudhatul Mujawwidin.

Silsilah Sanad Al-Qur’an Santri Tahfidz

Adapun Silsilah Sanad Al-Qur’an Pondok pesantren Raudhatul Mujawwidin adalah dari dua guru Al-Qur’an yaitu KH. M Burhan Jamil dan KH. M. Ansor Wijaya.  KH. M Burhan Jamil bersambung pada Guru-gurunya yaitu Syekh Sya’roni Ahmadi, dan Syekh Dahlan Salim Zarkasi (Penemu metode Qiro’aty) dan bersanad  pada Syekh Munawwir Krapayk. Sedangkan KH. M. Ansor Wijaya berguru dengan Syekh KH.M Marzuki Khairuddin, dan gurunya Syekh Mufid Mas’ud (Jogya) dan bersanad pada Syekh Munawwir Krapayk dan terus bersambung dengan guru-gurunya hingga Rasulullah SAW.

Dalam bidang Al-Qur’an, memperoleh ijazah yang bersambung kepada Nabi Muhammad ﷺ merupakan suatu hal yang terpuji.  Pada masa dahulu, banyak para ulama yang menjelajahi ke suatu negara dengan tujuan untuk belajar mendapatkan sebuah ijazah dari seorang guru. Inilah pentingnya sanad yang terus dilestarikan oleh para Ulama’ Ahlussunnah Waljama’ah, khususnya oleh Nahdlatul ‘Ulama di Nusantara. Bahkan jaringan ulama nusantara menembus hingga ulama’ di belahan dunia, dan tidak sedikit ulama’ulama dunia yang memiliki bersanad dengan ulama-ulama Nusantara.  Karena dengan sanad tersebut akan ketemu secara runut dan dapat dipertanggungjawabkan, termasuk sanad Al-Qur’an. Silsilah jaringan sanad Ulama Nusantara juga telah dicetak oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jakarta.

Sebaik-baiknya orang belajar ialah yang mempunyai guru. Lalu gurunya itu mempunyai guru lagi dan terus tersambung (wushul) dengan guru-guru lainnya. Itulah yang dinamakan sanad keilmuan. Sanad keilmuan dari guru-guru yang jelas dan berakhlak mulia memastikan ilmu yang kita dapatkan telah melalui proses yang baik dan benar, tidak melalui proses yang instan sehingga ilmu tersebut layak diajarkan kepada orang lain. Dan Guru dari segala guru adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, manusia pertama penerima wahyu Allah dari malaikat Jibril untuk manyampaikan Risalah Islam. Demikian terang Habib Luthfi akan pentingnya punya guru berakhlak mulia.

Rujukan berikutnya ialah para ulama yang berguru kepada para sahabat Nabi dan generasi-generasi berikutnya yang secara transmisi (sanad) mereka saling menyambung. Jadi dalam tradisi keilmuan di kalangan ahlussunnah waljama’ah, sanad merupakan kunci sekaligus menepis sebagaian kelompok tertentu dengan jargonya kembali pada Al-Qur’an dan Hadits dengan maksud tidak perlu memakai perangkat-perangkat ilmu yang dibakukan oleh para ulama.

Pada masa Nabi, pemberian ijazah telah dijumpai, bahkan dilakukan oleh Nabi kepada sebagian sahabat seperti Abdullah bin Mas’ud, Salim, Muadz, dan Ubay bin Ka’ab. Nabi bersabda: خُذُوا القُرْآنَ مِنْ أَرْبَعَةٍ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، وَسَالِمٍ، وَمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ Artinya: “Ambillah Al-Qur’an dari empat orang; dari Abdullah bin Mas’ud, Salim, Muadz bin Jabal dan Ubay bin Ka’ab”.

Dalam hadis ini, Nabi memberikan ijazah (legalitas formal) kepada keempat sahabat di atas untuk mengajarkan Al-Qur’an karena kapasitasnya yang mumpuni dalam bidang Al-Qur’an. Secara bahasa, ijazah berarti legalitas atau putusan, sedangkan dalam ranah ilmu Al-Qur’an adalah sebuah persaksian atau pengakuan dari seorang mujiz (guru yang memberikan ijazah) kepada seorang mujaz (yang mendapatkan ijazah) atas keahliannya dalam bidang Al-Qur’an, seperti hafal Al-Qur’an, memiliki kapasitas keilmuan dan bacaan Al-Qur’an yang baik serta memiliki kecakapan dan keahlian dalam mengajarkan Al-Qur’an. Pada dasarnya, untuk mendapatkan ijazah Al-Qur’an seseorang harus menyimak dan membaca Al-Qur’an sampai khatam kepada seorang guru yang mutqin (sangat lancar dan kuat hafalannya). Namun ada pula ijazah Al-Qur’an yang diberikan kepada seseorang yang hanya membaca sebagian ayat Al-Qur’an, bahkan ada yang hanya melalui uji kompetensi dalam bidang Al-Qur’an dengan beberapa syarat tertentu.

Adapun metode yang dipakai dalam pengambilan sanad Al-Qur’an di Pondok Pesantren Raudhatul Mujawwidin adalah melalui, ijazah ‘ardhan wa sima’an (ijazah setoran dan sema’an). Secara praktik, seorang guru membaca Al-Qur’an dan murid mendengarkan dengan seksama. Setelah sang guru selesai membaca, murid membaca ulang yang dibaca oleh gurunya.  Metode ijazah dan talaqqi Al-Qur’an seperti ini merupakan yang paling tinggi derajatnya, hanya saja praktiknya sedikit ditemukan pada saat ini.  Praktik talaqqi (tatap muka atau perjumpaan langsung) seperti ini telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad ﷺ, dengan Malaikat Jibril. Nabi menyimak dengan seksama bacaan Jibril, kemudian setelah menuntaskan bacaannya, Nabi membaca ulang yang dibaca oleh Jibril. []

Muttakin, M. Pd.